Menanti Yang Terindah
Surya baru saja beranjak dari peraduannya Ketika ku buka jendela Lentik jemari bayu membelai kepala Pancaran surya mengintipku tertawa Seakan bertanya, mengapa kau masih gulana Belalang yang hinggap di kamboja ikut tertawa Seakan mengejek, kau tak kan bisa melupakan kenangan yang tercipta Kau tak kan mampu menghalau rindu yang menggoda Menangislah sepuasnya Agar hatimu lega Sabarlah jika Tuhanmu belum mengabulkan doa Yakinlah ada yang terindah untukmu nantinya Itulah keyakinan yang menenangkan jiwa. (Pojok kamar, 21 Juni 2025)